Namun, belum lama
berselang, kakak iparku pindah ke Sumatra karena suaminya ditugaskan di
kota Medan. Sejak itulah masalah anak muncul menjadi persoalan yang
memusingkan, sementara itu tidak ada lagi sanak saudaraku ataupun sanak
saudara istriku yang tinggal di Jakarta selain kakak iparku yang pindah ke
Sumatra (kebanyakan keluarga kami tinggal di Yogyakarta dan beberapa di
Solo). Keadaan ini memaksa kami untuk membayar seorang babby sitter untuk
menjaga anak kami disaat kami berada di kantor. Sebagaimana
biasanya, mempekerjakan seorang babby sitter adalah persoalan yang
sangat menjengkelkan, bayangkan saja dalam 2 bulan kami telah 5
kali mengganti babby sitter dengan berbagai macam sebab yang aku rasa tidak
perlu kupaparkan disini.
Namun akhirnya ada
juga seorang babby sitter yang dapat bertahan bekerja selama hampir tiga
bulan, ini merupakan rekor pertama yang telah dicapai setelah sebelumnya
tidak pernah ada babby sitter yang bertahan lebih dari 3 minggu. Atas dasar
alasan itu juga, aku menyarankan kepada istriku untuk menaikkan gajinya
sebagai kompensasi atas kerja serta tanggung jawabnya.
Babby sitter yang satu
ini memang agak berbeda dari semua babby sitter terdahulu. Kelima babby
sitter sebelumnya yang sempat bekerja di tempat kami, rata-rata berusia
dibawah 30 puluh tahun, bahkan ada yang baru berusia 19 tahun, namun babby
sitter yang terakhir ini adalah seorang janda berusia 48 tahun. Kami
memanggilnya Bu Darsih, bertubuh besar untuk ukuran seorang wanita (tingginya
kurang lebih 165 cm), agak gemuk sebagaimana umumnya wanita paruh baya.
Pada awalnya kami agak ragu kalau Bu Darsih ini akan sanggup merawat
Rio putra kami, mengingat Bu Darsih sudah berumur, sementara Rio
sangat hiperaktif, sehingga merawat Rio akan lebih melelahkan
dibandingkan merawat anak-anak lain pada umumnya. Ternyata perkiraan kami
salah, dan cukup surprise, ternyata Bu Darsih dapat merawat Rio
dengan baik. Bahkan ada kejadian yang lebih mengejutkan lagi, dan ini
yang ingin kuceritakan pada kesempatan ini.
Kami memiliki acara
rutin, yaitu berenang yang kami lakukan seminggu sekali setiap hari Sabtu
sore. Aku dan istriku selalu mengajak Rio berenang di gelanggang renang
Ancol, dan biasanya selalu ada dua atau tiga orang anak tetangga teman
bermain Rio yang ikut berenang bersama kami. Babby sitter selalu kami ajak
ikut serta untuk membantu mengawasi anak-anak, meskipun tidak ikut
berenang.
Sebagaimana biasanya,
pada hari Sabtu kami pergi gelanggang renang Ancol, namun kali ini istriku
tidak dapat ikut. Istriku pulang ke Yogyakarta yang rutin dilakukannya
enam bulan sekali untuk menjenguk keluarga di sana, terutama orangtuanya
(mertuaku), sehingga pada acara berenang kali ini, yang ikut hanya aku,
Rio beserta lima orang temannya serta tidak ketinggalan Bu Darsih. Karena
istriku tidak ikut, sementara teman Rio yang ikut lebih banyak dari
biasanya, yaitu sampai lima orang (biasanya paling banyak tiga orang),
aku berfikir bahwa Bu Darsih perlu ikut turun ke air untuk membantu mengawasi
anak-anak. Masalahnya keselamatan anak-anak tetangga juga merupakan
tanggung jawabku.
Menurut keterangannya,
Bu Darsih dapat berenang, tetapi dia tidak memiliki pakaian renang.
Bagiku, yang penting Bu Darsih dapat berenang, karena soal pakaian renang
adalah soal mudah, tinggal beli saja, beres.
Sesampainya di kolam
renang, aku mampir sebentar di sebuah kios yang menjual perlengkapan
renang untuk membelikan baju renang Bu Darsih. Untungnya ada nomor yang
pas untuknya, karena baju renang ukuran besar tidak begitu banyak. Setelah
itu seperti biasanya, aku selalu menyewa kamar bilas keluarga yang dapat
disewa per tiga jam. Aku selalu menyewa kamar bilas keluarga, karena
kupikir lebih praktis. Di kamar bilas itu kami sekeluarga dapat berkumpul dan
tidak perlu terpisah seperti di kamar bilas umum yang dipisahkan antara
kamar bilas untuk pria dan wanita. Disamping itu, di kamar bilas
keluarga semua perlengkapan, pakaian, tas dan sebagainya dapat disimpan
di kamar bilas tersebut, tinggal dikunci dan beres, tidak perlu
repot- repot antri ke tempat penitipan pakaian yang melelahkan,
ditambah resiko kehilangan barang-barang. Shower juga sudah tersedia di
dalam kamar bilas, tidak perlu repot-repot keluar kamar, ada air
panasnya lagi. Begitu praktis, sehingga mengawasi anak-anak pun jadi
lebih mudah.
Rio dan teman-temannya
begitu antusias, di kamar bilas mereka mengganti pakaian dengan
tergesa-gesa. Dan setelah selesai, mereka semua langsung lari ke kolam
tanpa tunggu-tunggu lagi. Setelah semua anak-anak keluar menuju kolam, aku
segera melepas pakaianku. Setelah aku telanjang bulat, aku bergegas menuju
shower, namun… astaga… aku baru sadar kalau ternyata ada Bu Darsih di
kamar bilas itu. Kulihat Bu Darsih mesem-mesem (tersipu malu) sambil
mencari-cari sesuatu dari tasnya. Aku pun pura-pura bersikap biasa,
seolah-olah telanjang bulat di depan Bu Darsih merupakan hal yang lumrah
bagiku, padahal itu kulakukan untuk mengusir rasa malu.
Dengan sok berlagak
tenang, aku menyuruh Bu Darsih untuk segera ganti pakaian. “Ayo.. Bu
Darsih.. cepat ganti baju.. itu anak-anak nggak ada
yang ngejagain..” Semua ucapanku itu betul-betul hanya bertujuan
untuk mengusir rasa malu karena sudah terlanjur telanjang, sementara itu
kulihat Bu Darsih terus saja mesem-mesem, dan ini mengundang perasaan aneh
pada diriku. Sebetulnya aku mengerti makna mesem-mesemnya Bu Darsih,
aku yakin kalau mesem-mesem- nya berkaitan erat dengan keadaanku
yang sedang telanjang ini. “Forget it..!” kupikir sambil tetap
telanjang bulat, akhirnya aku langsung menuju shower untuk membasahi
tubuhku, hal yang biasa kulakukan sebelum berenang.
Saat berada di bawah
kucuran shower, aku sempat memperhatikan Bu Darsih saat sedang
menanggalkan seragam babby sitternya yang berwarna putih, dan masih saja
sambil mesem-mesem. Mungkin dia pikir buat apa malu-malu telanjang
dihadapan majikannya ini, toh majikannya saja tidak malu telanjang bulat
dihadapannya, semua ini membuat perasaan mesum mulai menjalari tubuhku.
Selanjut pemandangan di hadapanku menjadi semakin mendebarkan. Bu Darsih
sambil terus mesem-mesem sendiri mulai menanggalkan pakaian dalamnya,
jantungku berdebar keras, apalagi disaat dia melepaskan kait-kait
BH-nya, serta meloloskan tali-tali BH tersebut dari lengannya.
Belum pernah
terbayangkan dalam pikiranku melihat Bu Darsih dalam keadaan yang kulihat
saat ini. Selama ini gairahku sama sekali tidak pernah terusik oleh wanita
paruh baya itu yang bertubuh besar dan agak gembrot, serta mengenakan
pakaian seragam putih. Namun pemandangan di hadapanku kali ini sungguh-sungguh
berbeda. Payudara yang sungguh besar dan montok dengan puting payudara
yang lebar berwarna coklat gelap, menggantung di dadanya, begitu
menggetarkan kalbuku. Apalagi saat dia memelorotkan celana dalamnya,
membuat rambut lebat di kedua pangkal pahanya yang montok begitu
jelas terpandang, sungguh membuat darahku menjadi berdesir
dengan derasnya. Jantungku semakin berdetak tidak beraturan, dan
tubuhku gemetar menahan gairah yang kali ini terusik oleh pemandangan
yang sungguh benar-benar lain dari biasanya, serta tidak
pernah terbayangkan sebelumnya olehku.
Disaat Bu Darsih
hendak mengenakan pakaian renangnya, secara refleks aku langsung berkata
kepadanya, “Ayoh… Bu Darsih.., mandi dulu… supaya nggak keram di
kolam.” Sebetulnya, ucapanku hanyalah akal bulusku yang semata-mata
hanya agar aku dapat menikmati pemandangan tubuh bugil Bu Darsih
lebih lama lagi. Namun ternyata, `Pucuk dicinta ulam tiba’, Bu
Darsih batal mengenakan pakaian renangnya, dan melemparnya ke atas
jok empuk berkulit plastik yang ada di kamar bilas itu. Lantas
sambil terus mesem-mesem dan masih telanjang bulat, Bu Darsih
melangkah menuju shower. Aku sedikit menggeser posisi berdiriku di
bawah shower untuk memberi tempat bagi Bu Darsih.
Tubuh telanjangnya
yang begitu montok dan besar, bergidik kedinginan saat air yang memancar
dari shower menerpa tubuhnya. Bu Darsih mengusap-usap wajahnya yang
terguyur air shower. Birahi yang sudah menguasai diriku membuatku nekat
menjamah payudaranya yang sangat besar itu.., sungguh aku sangat gemetaran,
takut kalau-kalau Bu Darsih menolak untuk disentuh. Tetapi ternyata Bu
Darsih hanya diam saja saat aku mengusap-usap payudaranya. Hal ini
membuatku nekat untuk berlanjut menjamah kemaluannya. Disaat jemariku
menyentuh kemaluannya yang berambut lebat itu, dalam waktu yang
hampir bersamaan tangan Bu Darsih juga menjamah batang penisku yang
tengah tegang. Dia terus-terusan mengusap dan mengelus batang penisku.
Kupandangi wajah Bu
Darsih, matanya menatap nakal dengan senyuman bandel di bibirnya. Wanita
paruh baya itu ternyata begitu menggairahkan. Tanpa kuminta, Bu Darsih
kemudian berjongkok di hadapanku, dia segera mengulum dan menjilati batang
penisku sampai menimbulkan bunyi yang begitu khas. Keahliannya menyedot
dan mengulum batang penisku begitu luar biasa, membuatku tidak
dapat menahan diri lagi. Kutarik tangannya mengajak berdiri,
lalu menggiringnya menuju jok berkulit plastik di kamar bilas
itu. Kubimbing agar Bu Darsih duduk di jok empuk itu, dan tanpa
kuminta, Bu Darsih pun langsung membengkangkan kedua kakinya,
sehingga kemaluannya yang besar menantang di hadapanku. Tanpa
buang-buang waktu, aku langsung menyibakkan rambut lebat yang
menutupi vaginanya, sehingga kudapati bibir-bibir vagina yang tebal
berwarna hitam kecoklatan. Lendir putih mengalir dari bibir-bibir vagina
yang mulai merekah itu yang merupakan pertanda birahi luar biasa
yang telah menghinggapi dirinya.
Saat bibir-bibir
vagina itu ku renggangkan, muncul klitoris sebesar kacang tanah seperti
menuntut untuk dijilati. Belum pernah kulihat klitoris sebesar itu, juga
bibir-bibir vagina yang begitu tebal, mungkin karena badannya besar
membuat klitoris-nya juga jadi besar sesuai dengan ukuran badannya yang
juga besar dan gemuk. Kujilati klitoris itu dengan buas, membuat Bu Darsih
mendesah keras, tubuhnya menjadi kejang dan gemetar menahan kenikmatan
itu, pinggulnya terangkat menyambut jilatan lidahku pada vagina dan
klitoris-nya. Vaginanya menjadi semakin menganga lebar, membuat dinding
vaginanya yang merah menjadi jelas terlihat seperti menyampaikan
kesiapannya untuk menerima coblosan batang penisku. Akhirnya,
“Bleesss..!” kubenamkan batang penisku ke lubang vaginanya. Terasa begitu
sempit dan menggigit, mungkin akibat Bu Darsih yang telah hampir 20 tahun
menjanda, membuat otot-otot vaginanya kembali menguat.
Tubuh kami
berguncang-guncang dahsyat di atas jok itu saling menekan, sementara
batang penisku keluar masuk lubang vaginanya menggesek dan menggaruk
dinding-dinding vagina yang sudah begitu gatal selama ini. Kujejalkan penisku
lebih dalam lagi, Bu Darsih pun menyambut dengan mendorong pinggulnya
supaya penisku masuk ke tempat yang paling dalam. Sementara itu jempol
serta telunjukku memilin- milin klitoris-nya, membuat Bu Darsih mengalami
kenikmatan yang sangat dahsyat, sampai-sampai matanya mendelik, sementara
desahan dan erangan keras silih berganti mengiringi orgasme
yang dirasakannya.
Spermaku menyembur
deras di dalam lubang vagina Bu Darsih dan membanjiri rahimnya. Tubuhku
menggeletak lemas di atas tubuhnya dengan batang penis yang masih terbenam
di lubang vaginanya untuk beberapa waktu. Saat kucabut batang penisku, Bu
Darsih kembali merenggut batang penisku dan memerasnya dengan begitu
bernafsu, sehingga sisa-sisa sperma yang telah bercampur lendir vaginanya meleleh
keluar dan langsung ditampung dengan lidahnya.
Setelah kejadian yang
mengejutkan dan menegangkan itu, kami melanjutkan acara berenang,
sementara hubunganku dengan Bu Darsih berjalan seperti biasa. Bu Darsih
tetap bersikap sebagaimana aku adalah majikannya. Hanya disaat istriku
meleng, kami pun langsung bergelut setubuh di atas ranjang tanpa malu-malu
dan tanpa basa-basi. Namun selain di ranjang, sikapnya terhadap diriku begitu
wajar seperti sediakala, bahkan meskipun istriku sedang tidak di rumah, sikapnya
tetap saja begitu wajar. Sama sekali tidak tercermin di wajahnya maupun di
sikapnya kalau wanita paruh baya itu sebetulnya bandel dan sering bergelut
senggama dengan diriku. Wajah liar penuh birahi, mata binal, senyum nakal
dan kebuasannya hanya muncul saat berada di atas ranjang. Setelah semuanya
selesai, dan kenikmatan telah direguk, sikapnya kembali wajar seperti
sediakala.
Bu darsih begitu profesional menjalani hubungan ini. Dan aku pun
sangat menikmatinya yang membuat hari-hariku semakin bersemangat.
